Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Tuesday, September 18, 2012

Biografi Jokowi



Masa Kecil Jokowi

Joko Widodo atau lebih dikenal dengan nama panggilan Jokowi, terlahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 21 Juni 1961. Di masa kecilnya, Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan. Ia hanya seorang anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar bantaran sungai. Ia tahu bagaimana menjadi orang miskin dalam arti yang sebenarnya.

Bapaknya seorang penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Jokowi kecil sering ke pasar untuk membantu bapaknya. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana para pedagang dikejar-kejar aparat, diusir tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia.

Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil karena tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh yang dicelenginya di tabungan ayam. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, atau jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tahu bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disinilah ia menemukan sisi kegembiraannya.

Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.

Masa Kuliah

Setelah lulus dari SMAN 6 Solo, Joko Widodo meneruskan kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Karena tergolong mahasiswa yang bermodal pas-pasan, ia harus pandai-pandai mengelola keuangan. Ia juga harus sering menahan diri bila menginginkan sesuatu. Kondisi ini belakangan menjadi bermanfaat ketika ia menggeluti dunia bisnis sebagai pengusaha mebel.

Semasa kuliah, Jokowi mengisi waktunya dengan kegiatan lintas alam seperti naik gunung dan sebagainya. "Kegiatan saya waktu menjadi mahasiswa itu naik gunung, main basket dan camping," ujar lulusan SDN 111 Tirtoyoso Solo ini.

Menjadi Pengusaha Mebel

Setelah lulus menjadi Sarjana Kehutanan UGM di tahun 1985, Jokowi tidak langsung bekerja di Solo. Dia merantau ke Aceh dan bekerja di sebuah BUMN. Tidak lama kemudian, ia kembali ke Solo dan bekerja di CV. Roda Jati, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan.

Setelah merasa cukup dengan pengalamannya di bisnis perkayuan, Jokowi memutuskan berhenti bekerja dan memulai berwirausaha di bidang mebel di tahun 1998. Jatuh bangun dalam merintis usaha juga telah dirasakannya. Dengan kesabaran dan kerja keras, ia kembangkan bisnis dari pemain lokal menjadi eksportir dan kemudian menjabat sebagai ketua Asosiasi Mebel Indonesia (ASMINDO) cabang Surakarta.

Asal Nama Nama Julukan "Jokowi"

“Jokowi itu nama pemberian dari buyer saya dari Prancis,” begitu kata Wali Kota Solo, Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, Wali Kota Solo. Belakangan dia mengecek, di Solo yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.

Jokowi Sebagai Walikota Solo

Kesuksesan sebagai seorang pengusaha ternyata tidak memuaskan jiwa seorang Jokowi. Di saat krisis berkepanjangan menimpa bangsa ini, dimulai dari tahun 1998, Jokowi melihat masih banyak yang harus dilakukan untuk mengubah bangsa ini khususnya mengubah nasib masyarakat yang kurang mampu. Dari situlah awal jiwa kepemimpinannya terpanggil untuk membawa perubahan-perubahan yang berorientasi pada masyarakat kecil.

Jokowi memulai niatnya dengan memasuki dunia politik praktis. Ia memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pimpinan Megawati Soekarnoputri sebagai kendaraan politiknya yang saat itu sedang populer.

Pada awal karirnya di dunia politik, banyak yang meragukan kemampuannya  karena sosoknya lebih mirip tukang becak di alun-alun kidul yang jauh dari kesan gagah, dalam masyarakat kita, sosok dengan ‘bleger’ yang besar lebih mendapat simpati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa. Itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka ingin mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi terpilih sebagai walikota dengan kemenangan tipis  menggantikan Slamet Suryanto, walikota sebelumnya, pada tahun 2005.

Jokowi tidak mengambil jarak dengan masyarakat yang dipimpinnya, tidak ada perubahan sikap setelah ia menjabat sebagai seorang walikota.

Menurut Jokowi, menjadi pemimpin harus dimulai dengan niat yang lurus dan ikhlas. Baginya, jabatan adalah suatu amanah yang berat dan harus bisa dipertanggungjawabkan. Amanah itu diterimanya dengan senang hati dan dengan penuh tanggung jawab.

Sikap rendah hati walikota Solo ini tidaklah dibuat-buat. Sikapnya yang tidak membedakan, sangat dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan pengusaha sampai tukang becak sangat mengenal sosok Jokowi.

Bagi masyarakat Solo, Jokowi adalah seorang pemimpin yang sangat peduli dengan kehidupan mereka. Mereka menemukan kepribadian yang sangat menarik pada diri Jokowi. Tidak ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin. Hampir tiap mallam, bila tidak ada acara resmi, Sang Walikota ini bisa dengan mudah ditemui.

Di lorong-lorong pasar dan jalan-jalan di Kota Solo, Jokowi kerap asyik mengobrol dan mendengar keluh kesah rakyatnya tanpa jarak. Bahkan rumahnya pun sering mendapat kunjungan dari berbagai lapisan masyarakat. "Rumah dinas ini toh rumah rakyat. Sudah ribuan warga Solo yang berkesempatan berkunjung ke sana. Jangan sampai rakyat kesulitan bertamu ke rumahnya sendiri," tutur Jokowi.

Bukan itu saja. Sudah bukan rahasia lagi kalau ternyata gaji bulanan sang walikota ini tidak pernah diambilnya sejak ia menduduki jabatan. Ia lebih memilih menandatangani slip gaji tanpa pernah melihat upahnya. Kabarnya uang itu digunakannya untuk membantu rakyat yang membutuhkan. Untuk memenuhi nafkah keluarga, Jokowi mengaku masih memiliki uang dari usaha mebel yang dikelola bersama sang istri tercinta.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Gebrakan awal yang dilakukannya dalam membenahi Solo adalah melakukan branding (pencitraan) dengan menjadikan Solo sebagai 'The Spirit of Java". Ia juga mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada Oktober 2008.

Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.

Kemudian, ia mendeklarasikan Solo sebagai Cyber City. Untuk mengusung konsep tersebut, pemerintah kota Solo telah memulainya dengan memasang layanan free hotspot di 51 titik kelurahan, 5 titik kecamatan dan 17 titik di area publik. Selanjutnya diteruskan dengan pemasangan hotzone sepanjang 7 kilometer antara kawasan Kleco hingga Panggung.

Dalam deklarasi Solo Cyber Day 2011, sebanyak 1.500 peserta ikut ambil bagian. Mereka terdiri dari pelajar, masyarakat umum hingga blogger. Para peserta tersebut membuka jaringan media sosial seperti twitter, facebook, kaskus dan blog. Tujuannya adalah semata-mata untuk mempromosikan kota Solo.

Dalam menata kotanya, Jokowi juga selalu punya inovasi-inovasi baru seperti menggelar sayembara penataan kota yang diikuti oleh sejumlah arsitek dari seluruh Indonesia. Ke depannya, Solo akan selalu menggelar sayembara untuk penataan kawasannya. Menurut Jokowi, dalam konsep pembangunan menata kota, ia berharap ide pembangunan kota muncul dari banyak orang bukan hanya dari satu orang atau satu kontraktor. Terobosan ini sudah ada payung hukumnya dan merupakan terobosan pertama kali di Indonesia.

Bukan itu saja, Jokowi juga adalah seorang forrester sejati. Kecintaannya pada tumbuhan, taman, hutan dan kayu membawanya keliling dunia untuk memasarkan mebel dan belajar mengelola tanaman dengan baik. Inilah yang kemudian banyak menginspirasi bapak 3 orang anak ini dalam mengembalikan kota Solo ke jati dirinya sebagai kawasan tradisi yang sejuk. "Grand design tata ruang Solo adalah eco-cultural city. Lingkungan hidup dan kebudayaan hidup berdampingan," harapnya.

Ambisinya dimulai dengan merintis hijauan di sepanjang jalur Citywalk. Jokowi mengembangkan jalur pedestrian di berbagai penjuru di kotanya. Taman-taman kota telah direvitalisasi. Kawasan bantaran sungai ia sulap menjadi Green Belt atau Sabuk Hijau. Contohnya, Taman Sekartaji seluas 38 hektare dan Taman Balekambang dijadikannya peneduh, paru-paru kota dan daerah tangkapan air.

Maka tidak salah bila Wakil Presiden Boediono mencanangkan Solo sebagai the Indonesian City of Charm dalam the 7th China-ASEAN Expo, di Nanning, Guangxi, Cina, Oktober 2010. Untuk mengupayakan ikon tersebut, Jokowi bercita-cita mewujudkan Solo menjadi Kota Dalam Kebun. Setiap ruang publik terbuka yang belum ada hijauannya, ditanami tanpa kecuali. Pagar-pagar dinding dan besi dirobohkan dan diganti pagar hidup (tanaman).

Dia berharap, 30-35 persen wilayah kota akan menjadi kebun dan 15 tahun ke depan bahkan akan menjadi hutan. "Dalam jangka panjang, desain tata kota ini adalah Kota Dalam Hutan. Saya akan memimpin sendiri program ini. Saya akan datangi setiap rumah, bank, kantor, sekolah, dan gedung lainnya, mengajak rakyat menanam pagar hidup dan beraneka pohon," ujarnya.

Selain itu, untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan kota, bila ia mempunyai program pembangunan kota, biasanya terlebih dahulu ia menulis idenya di media lokal untuk mendapatkan opini maupun tanggapan masyarakat. Setelah itu baru dirembug bersama apakah rencana tersebut jadi dilakukan atau tidak. Hal itu baginya lebih utama, dari pada mengajukan langsung kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Alasan beliau, sebab ia merasa tidak pintar melakukan deal-deal yang nantinya akan tersangkut hukum dan lainnya.

Jokowi berprinsip bahwa untuk menjadi pemimpin rakyat harus berani melawan arus. Pemimpin itu diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi tidak saja bagi rakyat yang dipimpin namun juga bagi Indonesia bahkan dunia internasional. Selanjutnya, menurut beliau, salah satu strateginya dalam menjalankan pemerintahan adalah membangun trust (kepercayaan). "Kepercayaan bisa dibangun dengan dialog, memenuhi janji dan menunjukkan bukti nyata. Setelah trust didapat maka jalan akan semakin mudah," ujarnya.

Menertibkan Pedagang Kaki Lima

Strategi komunikasi intensif dan sabar dengan prinsip "memanusiakan" warganya adalah cara yang dilakukannya ketika menertibkan Pedagang Kaki Lima (PKL) di daerah Banjar Sari yang sudah puluhan tahun mendominasi tata kota Solo. Ketika harus memindahkan PKL, ia lebih dulu mengundang makan para pelaku sektor informall itu. Ia tak memilih jalan pintas: mengerahkan aparat atau membakar lokasi. Setelah undangan makan yang ke-54, baru ia yakin pedagang siap dipindahkan. Acara pemindahan pun berlangsung meriah, lengkap dengan arak-arakan yang diramaikan pasukan keraton.

Berhasil dengan Banjarsari, Joko Widodo merambah PKL di wilayah lain. Di jalan depan Stadion Manahan, sekitar 180 pedagang menjadi sasarannya, mereka dibuatkan shelter dan gerobak. Penjual makanan yang terkenal enak di beberapa wilayah dikumpulkan di Gladag Langen Bogan Solo, Gandekan. Lokasi kuliner yang hanya buka pada mallam hari dengan menutup separuh Jalan Mayor Sunaryo tersebut, sekarang menjadi tempat jajan paling ramai di kota itu.

Jokowi memperlakukan PKL sama terhormatnya dengan pedagang pasar tradisional, tenant, toko, mall, supermarket, dan pelaku ekonomi lainnya. Ia bahkan memberikan perhatian lebih pada usaha kecil menengah.

Di era kepemimpinannya pula, pemerintah kota Solo berhasil merevitalisasi 15 pasar tradisional sehingga mampu bersaing dengan pasar modern. Lalu, merelokasi 23 titik PKL dan mendirikan 5 Badan Usaha Milik Masyarakat (BUMM) sebagai percontohan. Targetnya, ketika masa jabatannya berakhir pada 2015, sebagian besar dari 38 pasar tradisional Solo sudah dibangun ulang.

Menurutnya, kesalahan terbesar seorang kepala daerah adalah memberi kemudahan izin kepada investor besar untuk membangun mall dan supermarket, namun tidak memberi ruang bagi PKL dan mengabaikan pasar tradisional. "PKL adalah aset. Terbukti, merekalah yang paling mampu bertahan ketika Indonesia diterpa badai krisis moneter. Mereka harus diberi fasilitas, entah dalam bentuk shelter, tenda, gerobak, atau pasar," tegasnya. Sebaliknya, Jokowi mempersulit izin pendirian mall dan supermarket.

Selama menjabat walikota, ia mengaku menerima permohonan izin untuk lebih dari 20 mall, namun semua ditolaknya. Grand Mall dan Solo Square adalah dua mall di Solo yang diberi izin walikota sebelumnya. Tapi, Jokowi mengaku mengizinkan pendirian Paragon Apartemen. Yang terpenting, menurut dia, investor harus bersedia memberikan fasilitas publik. "Bantuan asing untuk pembangunan banyak yang datang ke Solo. Antara lain, dari UN Habitat, Aus Aid, GTZ, dan CDIA. Namun untuk investasi, saya mengutamakan investor lokal yang kompeten dan kompetitif."

Jokowi juga telah menginstruksikan kepada semua jajarannya untuk memangkas jalur pengurusan perizinan dan administrasi kependudukan menjadi lebih murah dan mudah. Proses perizinan yang dulu butuh waktu delapan bulan, dipangkasnya menjadi enam bulan, lalu empat bulan dan sekarang cukup enam hari. Begitu pun pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang sebelumnya 2-3 minggu, kini cukup satu jam.
Dengan gaya kepemimpinannya, Jokowi sukses mendongkrak Penghasilan Asli Daerah yang hanya Rp 54 miliar di tahun pertama ia menjabat, menjadi Rp 146 miliar pada 2010. Sedangkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Solo sebesar Rp 1,03 triliun, pendapatan per kapita Rp 14,6 juta, dan Upah Minimum Regional Rp 835 ribu.

Karena prestasinya itulah, Jokowi mendapat banyak apresiasi dan penghargaan. Majalah Tempo memasukkannya sebagai salah satu dari "10 Tokoh 2008" kategori pemimpin daerah terbaik se-Indonesia. Ia juga pernah dianugerahi Bung Hatta Award 2010. Semua penghargaan itu tidak membuat Jokowi lupa daratan. Ia tetap berusaha rendah hati dan tampil apa adanya. "Saya ya tetap begini ini. Yang penting, jangan coba-coba menyuap. Jangan coba-coba korupsi jika tak ingin saya pecat!" serunya.

Dalam kiprahnya di birokrasi, Jokowi memang selalu menjaga diri dan keluarganya dari godaan korupsi. Ia dengan tegas memisahkan urusan pemerintah, perusahaan mebel miliknya dan keluarga. Bukan itu saja, ia secara periodik melaporkan kekayaannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Atas dedikasinya itu, banyak kalangan terutama dari PDIP yang berharap Jokowi kelak akan menjadi pejabat negara di level lebih tinggi dengan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Namun apakah ia tertarik? "Sama sekali endak. Biarlah yang pintar-pintar saja di sana. Kelak, kalau periode kedua sudah habis, saya kembali jadi tukang kayu saja," ujarnya sambil tertawa.

Monday, August 27, 2012

Bai Fang Li, Tukang Becak Berhati Mulia



Namanya BAI FANG LI. Dia adalah seorang tukang becak (rickshaw) di kota Tianjin, China. Di sepanjang hidupnya, ia mencari nafkah dengan mengayuh becak, memberi pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan transportasi murah dari satu tempat ke tempat lain.

Tubuhnya kecil, bahkan terlalu kecil dibandingkan dengan sesama tukang becak lainnya. Namun, ia sangat energik dan antusias. Setiap hari dia memulai rutinitasnya pada pukul 6 pagi, mengelilingi kota dengan becaknya untuk mencari penumpang atau mengantar mereka ke tempat tujuannya. Dia bekerja sepanjang hari, Bai Fang Li jarang pulang sebelum pukul 8 malam.

Semua pelanggan menyukai Bai Fang Li karena ia ramah dan murah senyum. Dia tidak pernah menentukan biaya yang harus dibayar oleh pelanggannya, tapi dia bergantung pada kemurahan hati para pelanggan untuk membayar jasanya. Karena hati yang baik, orang-orang lebih memilih untuk menggunakan jasanya lebih dari yang lain. Banyak dari mereka yang bersedia untuk membayar lebih daripada tarif  biasanya. Mungkin juga ini karena mereka melihat betapa keras ia, dengan tubuh kecilnya, harus mengayuh becak dengan susah payah sampai napasnya terasa berat.

bai fang li at home

Bai Fang Li tinggal di sebuah gubuk tua reyot di daerah kumuh di kota Tianjin. Di dalam gubuk itu hanya ada satu ruangan dimana ia harus menyewa dan berbagi tempat bersama beberapa orang lainnya. Praktis tidak ada perabotan sama sekali di dalam gubuknya, kecuali sepotong karpet tua yang dipakainya untuk tidur setelah seharian bekerja menarik becak. Di ruangan ini juga, ia hanya memiliki sebuah kotak kardus tua tempat ia menyimpan selimut tua miliknya yang sudah lusuh dan penuh jahitan. Ada juga piring dan cangkir kaleng, yang ditemukannya di tumpukan sampah di sekitar gubuk, yang dipakainya untuk makan dan minum. Di sudut pondok, ada sebuah lampu minyak untuk memberikan penerangan di malam hari.

Bai Fang Li tidak memiliki keluarga atau kerabat di kota tempat tinggalnya. Orang-orang hanya tahu bahwa ia datang dari kota lain. Namun, ia tidak pernah merasa kesepian karena selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyukainya. Mereka mencintainya karena sikap positif dan kemurahan hatinya. Dia membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan melakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Dari penghasilannya sebagai tukang becak yang meskipun tidak seberapa, seharusnya ia mampu membeli makanan dan pakaian yang lebih baik. Namun, ia malah menyumbangkan sebagian besar penghasilannya untuk sebuah panti asuhan di Tianjin yang menangani lebih dari 300 anak yatim piatu. Juga untuk  sekolah yang dikelola oleh panti asuhan tersebut .

Sebuah insiden yang mengubah cara hidupnya

Bai Fang Li mulai menyumbang untuk panti asuhan pada tahun 1986, yaitu di saat usianya mencapai 74 tahun. Ini adalah kisah bagaimana hatinya tersentuh dan bagaimana ia membuat keputusan untuk melakukan apa yang telah ia lakukan sekarang.

Pada suatu hari Bai Fang Li sedang beristirahat sejenak setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia melihat di jalan, ada seorang anak laki-laki kurus berumur kira-kira enam tahun sedang menawarkan bantuan kepada seorang wanita untuk membawakan belanjaannya. Ia melihat anak kecil ini membawa tas belanjaan yang berat dengan susah payah, tapi juga terlihat bersemangat untuk melakukan pekerjaannya dengan baik. Ada senyum lebar terlukis di wajah anak itu ketika telah berhasil menyelesaikan tugasnya dan menerima uang sebagai imbalan  atas jasanya. Anak ini mendongak ke langit menggumamkan sesuatu seolah-olah ia sedang berdoa dan mengucap syukur atas berkat yang baru saja diterimanya. Bai menyaksikan anak itu membantu beberapa orang yang sedang berbelanja di pasar, dan setiap kali menerima pembayaran atas jasanya, ia mendongak ke langit dan menggumamkan sesuatu.

Kemudian, Bai melihat anak itu pergi ke tumpukan sampah dan menggali seolah mencari sesuatu. Ketika behasil menemukan sepotong roti kotor, anak itu terlihat begitu senang. Ia membersihkan roti itu sebaik-baiknya, lalu memakannya seolah-olah itu adalah sepotong roti yang datang dari sorga. Hati Bai sangat tersentuh dengan apa yang dilihatnya. Dia mendekati anak itu dan menawarkan untuk berbagi makan siang dengannya. Bai bertanya mengapa anak itu tidak membeli makan siang yang layak dengan uang yang diperoleh tadi. Anak itu berkata, "Saya akan menggunakan uang itu untuk membeli makanan untuk adik-adik saya." Bai bertanya, "Di mana orang tuamu?" Anak itu menjawab, "Orang tuaku sehari-hari bekerja sebagai pemulung di tempat pembuangan sampah. Namun, semenjak satu bulan yang lalu, mereka menghilang dan aku belum pernah melihat mereka lagi. Jadi, aku harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan juga kedua adikku.."

Bai Fang Li meminta anak itu untuk membawanya menemui saudara-saudara perempuannya. Bai menangis ketika melihat kedua gadis itu, berumur 5 dan 4 tahun. Gadis-gadis itu begitu kotor dan kurus, dan pakaian mereka sangat lusuh dan kotor. Para tetangga tidak peduli dengan kondisi ketiga anak karena mereka juga sedang berjuang untuk mengatasi masalah kehidupan mereka sendiri.

Bai Fang Li membawa ketiga anak itu ke sebuah panti asuhan di Tianjin. Dan mengatakan kepada manajer panti asuhan bahwa ia akan memberikan uang yang didapatnya ke panti asuhan untuk membantu anak-anak di sana mendapatkan makanan, perawatan dan pendidikan yang layak. Sejak itu Bai Fang Li memutuskan untuk bekerja lebih keras dan dengan tekad yang lebih dalam, mengayuh becak untuk mendapatkan uang guna membantu anak-anak di panti asuhan. Dia mulai bekerja lebih awal dan pulang terlambat untuk mendapatkan uang ekstra. Dari semua pendapatannya setiap hari, ia menyisihkan sedikit untuk membayar sewa gubuk kecilnya. Kadang-kadang untuk membeli sedikit makanan. Sisa pendapatan disumbangkannya semua ke panti asuhan untuk membantu mereka memberi makan dan merawat anak-anak.

Dia sangat senang melakukan semua hal ini meskipun dengan segala keterbatasannya. Dia justru merasa bahwa adalah sebuah kemewahan bahwa ia masih punya tempat tinggal, makanan untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, meskipun pakaian itu ia dapat dengan memulung dari tempat pembuangan sampah. Dia selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya.

bai fang li in snow

Bai Fang Li tidak pernah libur, ia bekerja sebagai tukang becak 365 hari setahun, tanpa mempedulikan cuaca, ia tetap bekerja meskipun hawa dingin di saat turun salju atau ketika matahari bersinar sangat terik dan panas. Ketika ditanya mengapa ia bersedia mengorbankan begitu banyak, dia selalu berkata, "Saya selalu merasa menyesal bahwa saya bodoh dan tidak berpendidikan, tidak masalah kalau saya menderita, asalkan anak-anak itu memiliki sesuatu untuk dimakan dan dapat memiliki pendidikan yang layak untuk masa depannya nanti. Saya merasa bahagia dengan melakukan semua hal ini. "




Memberi Tanpa Mengharapkan Apapun

Bai Fang Li mulai memberikan sumbangan kepada panti asuhan sejak 1986. Dia tidak pernah meminta imbalan apa pun. Dia bahkan tidak tahu anak yang mana yang diuntungkan dari sumbangannya. Selama 20 tahun berikutnya, Bai Fang Li mengayuh becaknya untuk satu tujuan: memberikan sumbangan kepada anak-anak di panti asuhan untuk membantu mereka hidup dengan lebih baik. Selama 20 tahun, secara total ia telah menyumbangkan penghasilannya sebanyak RMB 350.000 (sekitar Rp 500 Juta) ke panti asuhan.

Ketika  usianya mencapai 90 tahun, ia membawa seluruh sisa tabungannya sebanyak RMB500 (sekitar Rp 750.000) ke sebuah sekolah panti asuhan bernama Yao Hua. Tidak banyak, tapi itu adalah seluruh uang yang dimilikinya.

Bai Fang Li berkata dengan sedih, "Saya sekarang sudah terlalu tua dan lemah, saya tidak kuat lagi mengayuh becak, dan tidak dapat melanjutkan memberi sumbangan. Ini mungkin adalah sumbangan terakhir saya" Semua guru dan siswa di sekolah itu tersentuh dan menangis mendengarnya.

bai fang li in hospital

Pada bulan Mei 2005, di usianya yang ke 93, Bai Fang Li di diagnosa mengidap kanker paru-paru. Ia meninggal di rumah sakit setempat empat bulan kemudian. Ratusan orang yang menghadiri pemakamannya menangis, mereka merasa sangat kehilangan ditinggalkan oleh orang tua yang baik hati itu. Ribuan orang lainnya merasa tersentuh oleh pengabdiannya yang tidak kenal pamrih. Bai Fang Li meninggal dalam keadaan miskin, ia tidak meninggalkan apapun selain semangat pengabdian dan cinta tulusnya kepada sesama.